Jerapah zaman Jurassic?
"Kalo jadi dia, kira kira pake koyo nya berapa banyak ya biar lehernya gak pegel?"
Yak! Setelah di pembahasan sebelumnya kita basah basahan di air, sekarang kita naik lagi ke darat. Dan kali ini kita disambut sama kawan kita, yang punya ciri fisik cukup unik, dan bisa dibilang gampang banget dibedainnya. Kali ini kita akan bahas si Brachiosaurus!
Sumber: https://dino.fandom.com/wiki/Brachiosaurus
Brachiosaurus ini adalah "jerapah"" versi dinosaurus yang sebenarnya. Namanya sendiri secara harfiah berarti "kadal lengan" (arm lizard) karena kaki depannya yang bisa dibilang jauh lebih panjang daripada kaki belakangnya, jadi kalo dilihat dari samping postur tubuhnya tuh kaya menurun ke belakang.
Salah satu hal yang sering dibicarain tentang Brachiosaurus ini tuh soal lubang hidungnya yang ada di puncak kepala nya. Dulunya para ilmuwan tuh mikir kalo posisi lubang hidung yang ada diatas ini tuh buat jadi kaya snorkel gitu, biar Brachiosaurus bisa jalan di dasar danau, sambil dia tetep bernafas. Padahal sebenarnya, posisi lubang hidung disitu fungsinya buat resonansi suara atau pendingin otak.
Nama umum: Brachiosaurus
Nama ilmiah: Brachiosaurus altithorax
Nama ilmiah: Brachiosaurus altithorax
Tipe: Hewan Zaman Jurassic Akhir, Hewan Herbivora
Ukuran: Panjang sekitar 18 hingga 26 meter. Tinggi mencapai 13 meter
Ukuran: Panjang sekitar 18 hingga 26 meter. Tinggi mencapai 13 meter
Berat: Beratnya berkisar diantara 30 hingga 50 ton
Awal Mula Penemuan
Fosil dari Brachiosaurus ini awalnya ditemuin tahun 1900 di Grand River Valley, Colorado barat, Amerika Serikat. Fosil ini ditemuin sama Elmer S. Riggs, seorang paleontolog dari Field Columbian Museum (yang sekarang dikenal sebagai Field Museum of Natural History) di Chicago. Setelah menemukan fosil ini, Riggs sadar kalo fosil ini tuh beda dari sauropoda lain karena tulang lengan atasnya (humerus) terlihat lebih panjang dari tulang pahanya (femur), nah atas hal inilah akhirnya pada tahun 1903, fosil ini dikasih nama Brachiosaurus.
Hal lain yang jadi perhatian tuh, kalo selama puluhan tahun lamanya, ada satu fosil brachiosaurus yang paling terkenal dan lengkap yang ditemuin di Tanzania, Afrika, dan juga dipajang di Museum Berlin. Tapi nih, pas tahun 2009, para ilmuwan menyimpulkan kalo spesies asal Afrika itu kelihatannya beda banget, dan akhirnya dikasih nama genus sendiri, yaitu Giraffatitan. Jadi bisa dibilang, Brachiosaurus yang "asli" (B. altithorax) tuh spesies dari Amerika Utara yang fosilnya sendiri jauh lebih langka ketimbang si Giraffatitan ini.
Kehidupan dan Kepunahan
Semasa hidupnya di Zaman Jurassic Akhir (sekitar 154-153 juta tahun yang lalu), Brachiosaurus adalah hewan high-browser sejati, yang artinya ia hanya memakan dedaunan yang ada di puncak pohon, yang mana tidak bisa dijangkau oleh hewan-hewan lain. Menjadi high-browser memiliki keuntungan yang sangat luar biasa, didukung sama lehernya yang tinggi itu juga. Bisa dibilang ya, dia satu-satunya spesies yang punya "akses VIP" ke sumber makanan yang melimpah, tanpa perlu berebut sama hewan berleher panjang lain, yang lehernya kebanyakan horizontal dan cuman bisa makan tanaman sedang atau rendah saja.
Nah, karena ukurannya yang besar itu, otomatis juga dia perlu asupan kalori yang besar. Buat memenuhi kebutuhan kalorinya yang besar itu, dia setiap hari bisa makan kira-kira sampai 400kg tumbuhan. Karena ukuran badannya yang gede itu juga bisa ia manfaatin buat jadi sistem pertahanan utamanya mereka. Karena bisa dibilang hampir tidak ada predator yang berani menyerang seekor Brachiosaurus dewasa yang sehat.
Untuk kepunahannya sendiri, mereka punah jauh sebelum asteroid menghantam bumi. Mereka menghilang pada akhir periode Jurassic atau awal Cretaceous. Penyebabnya sih kemungkinan besar karena perubahan lingkungan yang drastis. Iklim jadi lebih kering, vegetasi alam berubah., sehingga jenas tanaman-tanaman tinggi, yang mana makanan utamanya Brachiosaurus ikut berkurang. Selain itu juga, muncul kompetitor baru di zaman Cretaceous, kaya Titanosaurus yang bisa dibilang lebih adaptif, karena itu juga mungkin turut menggeser posisi para Brachiosaurus, hingga pada akhirnya perlahan-lahan punah.
Kira-kira begitu teman-teman untuk pembahasan soal Brachiosaurus pada kali ini. Seperti biasa, kalau kalian mau nambahin sesuatu atau mungkin mau request hewan lain buat dibahas, boleh banget ditulis aja di kolom komentar. Sekian untuk artikel kali ini, sampai jumpa di artikel selanjutnya!
Comments
Post a Comment