Misteri Tangan Kecil Carnotaurus: Sisa Dari Evolusi, atau Memang Gak Berguna?

"Jadi kamu anggap aku ini apa? Pajangan doang gitu?" Ucap sang tangan.

Nah, di awal kita kan ngebahas T-Rex tuh, "Badannya besar, tangannya kecil. Kalau mengaum, yang lain langsung mundur" gitu kan ya? Sebenarnya lirik lagunya itu tuh ngga salah, memang kenyataanya demikian, tapi kalo kita udah tau soal fakta tentang Carnotaurus, kalian pasti bakal mikir kalo ternyata liriknya tuh bakal lebih pas kalau yang dinyanyiin tuh bukan T-Rex, tapi Carnotaurus. Sayang aja dia kurang famous kalo dibandingin sama T-Rex, jadinya ya di-claim tuh titel sama T-Rex.

Simpelnya, kalo ada kompetisi "dinosaurus dengan tangan paling gak berguna", Carnotaurus pasti bakal menang telak, bahkan buat pegang pialanya pun dia gak akan bisa, karena memang se kecil itu tangannya, siku nya saja gak bisa ditekuk, jari-jarinya pun juga gak bisa mencengkram apapun, bahkan mangsanya sekalipun. Tapi, dibalik apa yang hilang di tangannya itu, dibayar lunas sama tanduk yang ada di kepalanya. Bisa dibilang dia tuh satu-satunya karnivora, yang punya tanduk tebal di atas matanya, makanya dia juga menyandang julukan "Banteng Neraka". Tapi sebenarnya, fungsi sejati dari tanduk ini tuh masih jadi pertanyaan buat para ilmuwan, mau dibuat keren-kerenan aja kah? Buat nyeruduk mangsanya kah? Buat pamer ke betina? Atau mungkin buat adu seruduk antar pejantan? Entahlah, bener-bener masih jadi "Top 10 questions scientist cannot answer".

Sumber: https://jurassicpark.fandom.com/wiki/Carnotaurus


Data Ilmiah: Spesifikasi Sang Mesin Pembunuh

Carnotaurus sastrei, ia adalah predator kelas berat, panjang tubuhnya sendiri bisa berkisar mulai dari 7,5 hingga 9 meter. Tingginya sendiri, terutama di bagian pinggul bisa mencapai 3 meter. Berat badannya sekitar 1,5 sampai 2,1 ton. Diet carnotaurus ini tentu saja adalah carnivora, yang berarti hewan ini memakan daging-daging hewan lainnya. Ia hidup pada Zaman Kapur Akhir (Late Cretaceous).

Sumber: Roberto Murta/Wikimedia Commons/Public Domain


Awal Mula Penemuan

Fosil Carnotaurus ini ditemukan pada tahun 1984 oleh tim ekspedisi yang dipimpin oleh Jose Bonaparte. Beliau ini sering disebut sebagai "Bapak Paleontologi Vertebrata Argentina". Kenapa bisa begitu? Karena, tanpa adanya beliau ini, kita mungkin gak akan tahu banyak soal dinosaurus-dinosaurus unik yang berasal dari Amerika Selatan. Rispek!

Lokasi dan kondisi fosil-fosil dari Carnotaurus ini ditemukan di Formasi La Colonia, Provinsi Chubut, Patagonia, Argentina. Yang membuat para ilmuwan waktu itu bisa dibilang kaget dan terkejut adalah soal gimana mereka nemuin kondisi fosilnya, karena kerangkanya sendiri ditemukan dalam kondisi yang hampir lengkap dan masih menyatu (articulated). Kenapa bisa begitu? Karena kemungkinan penemuan fosil yang kondisinya hampir lengkap tuh bisa dibilang udah cukup mustahil, biasanya tulang-tulang begini tuh udah kesebar kemana-mana, gak utuh. Bahkan, saking bagusnya kondisi fosil yang pertama kali ditemukan ini, sampai-sampai cetakan kulitnya ikut terfosilisasi di batuan yang ada di sekitarnya.

Untuk asal usul penamaannya sendiri, setahun setelah ditemukan, pada tahun 1985, dia resmi dideskripsikan dan diberi nama Carnotaurus sastrei.

            - Carnotaurus, diambil dari bahasa latin carno (daging) dan taurus (Banteng).
               Jadi ya, "Banteng pemakan daging".

            - Sastrei, diambil dari nama Angel Sastre, pemilik peternakan tempat fosil itu ditemukan.
               Funfact, fosilnya sendiri ditemukan di lahan antah berantah di tanah milik Pak Sastre ini.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Carnotaurus

Kehidupan dan Kepunahan

Kita mundur dulu, ke 70 juta tahun yang lalu, tepatnya ke Zaman Kapur Akhir (Late Cretaceous).

Berdasarkan analisis bebatuan di Formasi La Colonia, habitat asli Carnotaurus adalah dataran rendah pesisir, muara sungai (estuaries), dan laguna pasang surut. Iklimnya hangat, tapi punya musim yang ekstrem, kadang musim hujan lebat, kadang pula musim kemarau yang berkepanjangan. Di lingkungan yang bisa dibilang campur aduk antara hutan dan dataran terbuka inilah, sang Carnotaurus unjuk gigi.

Kemudian siapa mangsa utamanya? Di ekosistem itu, hidup juga dinosaurus berleher panjang (sauropoda) seperti Chubutisaurus dan mungkin beberapa jenis dinosaurus berparuh bebek seperti hadrosaur. Kalian tahu kan kalau di penjelasan sebelumnya, Carnotaurus itu tangannya bisa dibilang kayak pajangan aja, jadi dia bukanlah tipe petarung, makanya dia sangat gak cocok buat gulat sama mangsanya. Ilmuwan percaya kalau cara dia berburu adalah dengan Hit and Run. Jadi dia tuh bakal mengintai mangsanya terlebih dahulu dari balik pepohonan. Dia bakal ngunci targetnya, dengan matanya yang kecil dan menghadap kedepan itu, nah begitu ada celah, dia bakal langsung kasih jumpscare. Bermodalkan kecepatannya yang bisa sampai 50km/jam itu, dia bakal menabrak atau menyambar sisi tubuh mangsanya dengan rahang kapaknya, merobek langsung daging dari mangsanya, kemudian mundur. Dibiarin dulu tuh mangsanya melemah karena serangan mendadak dan pendarahan yang dialaminya, sebelum akhirnya dihabisi sama Carnotaurus. Cepat, brutal, dan efisien tentunya.

Adapun teori lain soal tanduknya. Karena tanduk yang dia punya itu terlalu pendek buat nembus kulit dinosaurus lain atau mangsanya, jadi kemungkinan besar tanduknya itu dipakai buat intimidasi sesama Carnotaurus, atau ya simpelnya gaya-gayaan aja. Mungkin juga jadi senjata kecil-kecilan, buat mereka dorong-dorongan kepala atau leher buat rebutan wilayah antar Carnotaurus. Memang, banyak aksesoris kurang manfaat, sudah tangannya jadi pajangan, tambah pula tanduknya cuman buat gaya-gayaan. Modis banget buat jaman segitu.

Sumber: Julian Fong/Wikimedia Commons/CC By 2.0



Akhir sebuah era. Sayangnya, spesialisasi itu udah kayak pedang bermata dua. Carnotaurus sendiri kan adalah seekor predator yang sangat terspesialisasi buat kecepatan, dan mangsa tertentu aja. Jadi ya saat asteroid Chicxulub menghantam semenanjung Yucatan 66 juta tahun yang lalu, efek domino nya ya sampai juga ke Argentina. Sama seperti efek rantai kepunahan hewan-hewan yang sudah pernah kita bahas sebelumnya. Debu menutupi matahari, kemudian tumbuhan mati, herbivora pun ikut mati, otomatis Carnotaurus pun juga ikut mati satu persatu. Gak ada tempat sembunyi buat hewan segede dia ini, yang butuh makan puluhan kilo daging setiap harinya. Gak ada asupan protein ya, tewas.

Nah, sampai pada hari ini Carnotaurus hanya tinggal tulang belulang di museum, prime nya pun bisa kalian lihat di film Jurassic World. Tapi, adanya sisa fosil di Argentina itu menandakan bahwa dulu, di ujung selatan dunia, pernah hidup seekor "banteng" yang berlari lebih cepat daripada angin, monster dengan tangan kecil, tapi daya bunuh yang sangatlah besar.

Segitu dulu pembahasan kali ini teman-teman, gimana dengan format baru yang kami bawain kali ini? Tentunya tahun baru, harus dengan pembawaan yang baru juga dong. Boleh banget teman-teman sekalian mungkin ada saran atau masukan, bisa ditulis aja di kolom komentar, atau mungkin kalian ada request hewan apa yang mau di bahas? Engga harus tentang dinosaurus ataupun reptil-reptil zaman prasejarah kok, sekarang cakupannya sudah lebih luas, hewan-hewan prasejarah yang unik sekalipun mungkin kedepannya juga akan kita bahas disini. Thank you semuanya yang sudah menyempatkan untuk membaca, sampai jumpa di kesempatan selanjutnya! Ciao!

Comments

Popular posts from this blog

Mosasaurus, si "T-Rex lautan".

Special Segment Talk!

Dinosaurus ini giginya ada 500?!